Dentang lonceng kuil para penyembah cemara menggema diminggu buta. Lalu lalang orang-orang tua, anak-anak dan pemuda memenuhi kota. Ini hari suci dan hari bahagia mereka. Tapi jelas kebahagiaanku tidak untuk semua…

Langkah berat seorang tentara ‘Purgatory’, tentara bertubuh api penyembah Sang Mentari. Tentara yang membaiat diri tak akan mati sebelum tugas mereka terakhir mereka berakhir, sebuah tugas untuk membakar hangus orang-orang yang mengadu domba para penyembah Mentari. Langkah beratnya bukan karena ia telah kalah perang, langkah beratnya bukan karena ia dan pasukan ‘Purgatory’ berdenyut nadi lainnya yang ia pimpin akan segera menyelami sebuah pertempuran besar. Langkah beratnya muncul setelah ia pulang ke desanya, kampung halamannya. Desa yang hijau penuh biri-biri gemuk dan padang-padang gandum.

Ia datang berniat untuk menengok orang-orang yang ia cinta. Ia datang untuk menengok kedua orang tuanya, terutama ibunya yang selalu membuat hatinya hangat. Kekasihnya yang dulu selalu menemaninya membersihkan kuil Mentari, dimana mereka dulu bersama-sama membakar dupa dan membaca mantra dan doa-doa untuk Sang Mentari.

Pagi itu, ia melihat ibunya sedang menuai benih-benih gandum besama ayahnya yang seorang pensiunan tentara yang sudah renta, ia melihat mereka dari kejauhan, dari balik perbukitan batu diseberang ladang. Ia tak mau kedua orang tuanya tahu bahwa kini seluruh tubuhnya kini berselimut api, konsekuensi kekuatan besar yang ia ambil untuk menghentikan perang diantara para penyembah Sang Mentari dinegeri Ukhuwah, negeri yang kaya ini. Kedua orang tuanya hanya tahu bahwa sekarang ini ia sedang berdagang dan mencari ilmu tata cara bercocok tanam dinegeri seberang. Hatinya sesak menyaksikan ini semua, tapi api yang yang menyelimuti tubuhnya masih terlalu panas untuk membiarkan airmatanya mengalir dari matanya. Hanya dari kejauhan, entah lebih pantas disebut menyedihkan atau sederhana, namun itu baginya cukup membuatnya bahagia.

Sorepun menjelang, ia berniat untuk beranjak pulang, meninggalkan desa itu untuk berjalan kembali ke utara, ke barak para pasukan api. Namun ditengah perjalanan meninggalkan desa ia bertemu dengan kekasihnya. Mereka saling pandang cukup lama. Ia nikmati setiap detik yang berlalu, setiap detik waktu yang ada walau hanya dalam pandang, begitu juga kekasihnya yang tahu benar bahwa manusia api berjubah besi itu adalah kekasihnya.

“Leliana…” Ucap tentara itu, mencoba memecahkan kebekuan yang ada. Gadis yang amat sangat mengenal siapakah tentara api itu sedikit terenyak mendengar namanya disebut secara lembut oleh sosok yang menyeramkan itu. Tapi kemarahannya akan keputusan pria itu untuk menjadi pemimpin pasukan api ‘Purgatory’ yang membuat penggunanya mendapatkan kutukan bertubuh api itu membuatnya mengucapkan perkataan yang membohongi diri.

“Siapa dirimu? Aku tak mengenalmu. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya wahai manusia api?”

Ucapan penuh kepura-puraan dari bibir seorang wanita yang biasa keluar dari mulut mereka ketika rasa rindu, marah, dan sedih bercampur aduk. Kata-kata lyang sebenarnya menyakitkan hatinya sendiri. Tapi ternyata kata-kata itu tak hanya menyakiti hati gadis itu sendiri, kata-kata itu ternyata juga amat terasa begitu menyakitkan bagi tentara ‘Purgatory’ itu. Tentara ‘Purgatory’ adalah tentara yang tak bisa mati oleh tusukan dan sayatan panah dan pedang biasa, tapi bukan berarti sebuah ucapan tak bisa melukai hatinya. Pedih, itu yang ia rasa, mengingat seharusnya mereka disatukan dan bebas dari alam fana jika mereka jadi berikrar dikuil Matahari dan bersaksi dibawah sinar Sang Mentari.

“Aku ‘Purgatory’, pasukan api yang tak bisa bisa mati. Puluhan luka tusukan dan sayatan panah dan pedang yang menembus kulitku selalu mengering setelah sepersekian detik pedang dan panah itu aku cabut dari tubuhku. Setelah itu aku tak merasakan apa-apa lagi. Tapi kenapa, ucapan seorang hawa yang mengaku tak mengenalku ini begitu membuat rongga dada sebelah kiriku begitu sesak? Lebih menyakitkan daripada ketika jantungku ditikam dari belakang oleh Sang Gigi Tanggal, Jenderal pengkhianat pemimpin pasukan pembebasan yang telah ku pukul mundur dalam pertarungan dipadang Qolbu yang terjadi di saat musim hujan lalu. Wahai Leliana… Gadis yang mengaku tak pernah mengenalku, aku hanya ingin kau tetap mengingat, mengingat sebuah perkataan yang sama seperti yang pernah ku katakan dulu bahwa keputusan ini ku ambil karena besarnya cintaku pada Sang Mentari. Jika kau masih berpikir bahwa ini ku lakukan untuk mendapatkan hati seorang putri dari golongan Elf, peri gunung, sebagaimana yang dikatakan banyak orang, maka kau salah. Putri Elf tersebut akan menikah dengan seorang pangeran Elf pula pada malam purnama esok. Aku ingin kau tahu itu… Dan aku juga ingin kau tahu, bahwa apa yang kau katakan tadi benar-benar membuat dadaku begitu sesak. Ini begitu menyakitkatn dan tak bisa ku biarkan, karena kelemahan ini bisa membuat semangatku tumbang dalam menjalani peperangan ini.”

Setelah itu ia cabut sebilah pisau dari ikat pinggang rantainya, lalu ia buka zirah besi yang melapisi dadanya. Kemudian ia tusukkan pisau itu tepat didada sebelah kirinya. Ia sayat luka itu agar lebih lebar dan menganga, lalu dengan segera ia masukkan tanganya ke dalam luka yang menganga itu. Ia menggeram kesakitan, tapi tanganya masih tetap berada didalam dada, seakan sedang merogoh mencari sesuatu. Lalu beberapa saat kemudian bersamaan dengan sebuah teriakkan keras, ia cabut tangannya keluar dari dadannya. Dan sepersekian detik kemudian luka sayatan didadanya itu sembuh, menghilang tak berbekas.”Servatis a periculum… Servatis a maleficum… Lindungilah kami dari mara bahaya… Lindungilah kami dari Kejahatan…”

Itulah kata-kata dingin yang keluar dari mulut tentara bertubuh api itu. Kemudian ia melanjutkan langkahnya ke arah utara. Tanpa menengok kebelakang, apakah gadis itu kini sedang menangis atau tidak, ia tetap berjalan, walau benda yang ia tarik dari dalam dadannya yang kini berada dalam genggamannya tak terasa terjatuh ketanah. Ia terus melanjutkan langkahnya walau kini benda itu kini berliang tanah. Walau ‘Hati’ itu mungkin akan menghilang dimakan alam.

Dan terdengar bisik pelan dari benda itu…

“Selamatkan aku.”

6 Okt ’11

Sebuah Sore Tanpa Kemenangan dan Penyesalan

Adiwena Yusuf Nugraha

 

Kanye West

Tinggi tegap berdiri ditengah gelapnya malam, sesosok pria dengan percikan-percikan api yang meletup-letup dari gurat-gurat kulitnya. Seperti aliran sungai Tigris dan Eufrat yang membelah Mesopotamia, berpusat di dada sebelah kiri, seperti marking gunung berapi, guratan dikulitnya yang selalu memercikkan api itu bercabang dan alirannya menyebar keseluruh tubuh. Terlihat jelas disiku dan telapak kedua tangan yang tak tertutup zirah… Leher ke dagu dimana plat zirah habis berhenti menutup. Pelipis hingga bawah mata kiri. Hanya ada sesosok bayangan hitam berserabut percikan api yang kemerah-merahan ditengah malam yang tak bercahaya itu.

 

Malam itu adalah malam tepat sehari sebelum hari suci, hari dimana orang-orang akan keluar dan menuju tanah lapang untuk duduk bersimpuh sambil menghadap langit sambil merentangkan kedua tangan, untuk meresapi kehangatan cahaya Sang Maha Agung Mentari. Sementara manusia-manusia lain tertidur pulas atau sedang berkhalwat dengan jiwanya masing-masing dimalam yang makin dekat dengan hari suci Sang Mentari, pria yang diketahui sebagai seorang prajurit itu tetap berdiri ditengah lapang yang terletak tepat diluar pintu gerbang utama kota Ukhuwah. Sembari sesekali memandangi jari-jemarinya yang terus meletupkan api-api kecil, ia seperti menunggu sesuatu. Benar saja tak berapa lama datang seorang gadis keluar dari kota itu.

 

“Akhirnya kau datang juga.”, ucap pria itu.

“Kenapa kau masih disini? Harusnya kau sudah pergi!”, timpal gadis itu.

“Lalu kenapa kau datang kemari? Ingin memastikan bahwa aku telah pergi? Aku hapal betul setiap perilakumu. Kau datang ke pintu utama kota ini untuk melihatku sebelum hilang dari pandang kota ini, bukan? Sebagaimana yang sering kau lakukan setiap aku dan Kepercayaan, sahabatku, berangkat bersama pasukan yang lainnya menuju medan pertempuran. Sebelum akhirnya sahabat karibku itu terpaksa ku lukai sendiri hingga sangat parah, karena ia begitu bodoh dan termakan hasutan, saat perang padang Qolbu terjadi beberapa waktu yang lalu.”

“Dasar bodoh, kau…”

“Memang aku ini bodoh. Begitu bodohnya aku sampai mau-maunya aku menunggumu disini hanya untuk mendengar ocehanmu yang ku tahu hanya ada dipermukaan bibirmu saja.”

 

Gadis itu memandang dengan seksama wajah pria yang bergurat api, begitu juga pria itu. Dan gadis itu lalu mulai menitikkan airmata.

 

“Kenapa kau ambil kekuatan api itu, padahal kau tahu bahwa itu akan memberimu kutukan yang entah bagaimana kelak apakah kau bisa terbebas darinya? Lihat! Kini tak ada lagi yang menyukaimu. Tak ada yang bisa menyentuhmu lagi. Sahabatmu, keluargamu, meskipun mereka begitu mengharapkanmu, meskipun mereka mencintaimu!”

“Aku sudah mempersiapkan diri untuk menerimannya. Tidak akan ada sedikitpun rasa malu bagi seseorang ketika ia dilihat oleh kekasihnya ketika menunjukkan keberaniannya dimedan pertempuran, walau kematian akan datang menyambanginya sebagai teman, itu yang dikatakan Phaedrus dalam enconomium-nya.

Aku ingin kau tahu, kasihku. bahwa ada yang lebih aku cintai selain ibuku dan dirimu. Aku lebih mencintai Sang Mentari, cintaku pada Sang Mentari lebih besar daripada cintaku pada ibuku dan cintaku padamu.

Oleh karena itulah aku… bukan, maksutku… oleh karena itulah kami memilih ini semua. Kami hanya ingin menghentikan perang antar sesama penyembah Mentari yang terjadi di kota Ukhuwah ini. Jikapun kami tak sanggup menghentikannya, paling tidak adanya kami ini bisa menyadarkan penerus pemimpin-pemimpin tua bodoh yang selalu memperkeruh keadaan ini. Mereka selalu mempermasalahkan siapa yang benar. Padahal sudah jelas ini semua hanya membawa kehancuran. Dalam perang saudara ini, hanya ada nista yang penuh dosa.

Untuk menyelesaikan ini semua, hanya bisa dilakukan dengan membuktikkan siapakah yang benar dan siapakah yang salah diantara kedua barisan ini. Dan untuk membuktikkan siapa diantara mereka yang benar, mereka harus melewati Purgatory, tungku api penyucian. Sebagaimana yang Shita lakukan untuk membuktikkan dirinya suci dari syahwat Rahwana. Jika mereka benar, mereka akan hidup dan tak terbakar sedikitpun seperti Shita, tapi jika mereka salah mereka akan terbakar dan musnah selamanya.

Tapi yang jadi masalah, mereka semua pasti tak akan mau untuk mencoba melewati api penyucian dosa ditungku penyucian utama, terutama pemimpin-pemimpin tua bodoh itu, karena mereka takut, mereka tahu masing-masing dari mereka itu salah. Tapi mereka tetap tak mau berhenti juga, menutupi segalanya dan membiarkan perang terus terjadi begitu saja. Lihatlah desa dibalik tembok utara sana yang kini telah sirna akibat pertempuran ini. Mereka harus segera memasuki api Purgatory. Maka api Purgatory-lah yang harus dibawa kesana, kemedan pertempuran itu. Dan kamilah Purgatori itu. Agar mereka yang bersalah diantara kedua barisan itu musnah, agar peperangan ini ada harapan untuk berakhir. Ini adalah jawaban kutukan api yang selalu kau pertanyakan padaku ini.”

 

Airmata gadis itu semakin deras membasahi pipinya setelah mendengar ungkapan pria itu.

 

“Andai saat ini aku bisa menangis sepertimu, kasihku, tapi sayang airmata ini selalu menguap begitu menetes dari mataku karena begitu panasnya hawa tubuhku ini. Kini aku tak berharap banyak tentang semua ini… tentang hidup ini… tentang kita. Akupun tak tahu akankah aku akan tetap hidup setelah peperangan yang kau sebut permainan ini. Tapi jauh didalam hatiku, aku berharap kau akan tetap menungguku dipintu kota ini, seperti yang biasa kau lakukan disetiap peperangan yang aku lalui dulu. Dimana setelah itu kita akan berjalan melalui jalan utama desa. Dimana domba-domba gemuk digembalakan. Tanah yang beraroma plum disiang hari, dan beraroma mawar dimalam hari. Kita berdua bersama-sama membersihkan lantai Kuil Matahari, membakar dupa dan menyalakan lilin wewangian sembari membaca mantra dan doa-doa untuk Dewa Sang Pembawa Pesan Kebenaran, dan yang utama untuk Sang Maha Pengasih Mentari.

Tapi kini, biarkan si Tua Waktu yang menjawab… Akankah aku berakhir seperti dandeleon yang tertiup angin, atau berakhir seperti lubang pada batu yang terbentuk oleh tetes-tetes air. Tapi kasihku… Jikapun kami… Jikapun aku tak kembali, paling tidak aku akan hilang dan lenyap tanpa rasa malu.

Basahi bibirmu akan doamu untuk kami… untukku… Dikuil Matahari ataupun ditungku api penyucian dirumah sederhanamu, memohonlah pada Sang Mentari agar setelah ini semua kita bisa bersatu, menyatukan jiwa yang ada dalam dada yang secara ghaib membawa kita lepas dari fana.”

 

Tepat setelah selesai mengucapkan semua itu, kerak-kerak api telah menutup sempurna wajah dan tubuh pria itu. Ia mulai berjalan menuju suatu tempat ke arah utara, entah dimana. Sebuah tempat yang dituju oleh mereka… Mereka yang mengambil keputusan yang sama dengan pria itu. Untuk mengakhiri sebuah perang yang akan terjadi setelah perayaan hari suci Sang Maha Agung Mentari berakhir. Ia terus berjalan tanpa menoleh kebelakang, tak memperhatikan gadis itu kini duduk bersimpuh dan menangis kian tersedu-sedu. Melupakan bahwa ibunya yang telah memasak daging asap kesukaannya kini sedang menunggu didepan pintu.

 

Beberapa orang maju ke medan pertempuran tak mengharap untuk hidup dan pulang untuk kembali.

 

Servatis a periculum…

Servatis a maleficum…

Lindungilah kami dari mara bahaya…

Lindungilah kami dari Kejahatan…

 

29 August ’11

Malam Tanpa Kemenangan dan Penyesalan

Adiwena Yusuf Nugraha

By Bent Tibisson

Ini masih tentang sebuah cerita tentang seorang kesatria, bekas seorang tentara, dan anak kecil disebuah

“Tanah Yang Patut Diperebutkan”. Dimana mereka berdua berusaha membuat padang Qolbu itu indah kembali, mereka ingin membuat pohon-pohon pelita yang mana daun-daun merah mudanya yang selalu menari tumbuh kembali. Mereka sungguh sangat menginginkan Sang Angin kembali memainkan kecapi dan bernyanyi. Dengan harapan orang-orang yang mereka cinta sudi untuk kembali dan mau berbagi senyum lagi setelah kemenangan akan sebuah peperangan yang didapat dengan harga yang sangat mahal ini.

Sang kesatria walau lelah terus mencoba merapikan tanah-tanah yang tertutup bongkahan-bongkahan batu sisa bangunan yang hangus terbakar agar bisa dibasahi hujan dan bermandikan cahaya Sang Mentari yang membawa kehidupan. Sementara anak kecil yang selalu bersamanya, Ikhlas, menebar benih-benih tanaman dan pepohonan agar padang itu kembali indah merona.

Sang kesatria tiba-tiba terdiam, dan melihat langit yang mana Sang Mentari dapat dirasakan dengan hangat menyinari.

“Apa yang sedang tuan pikirkan?”, tanya sang anak kecil.
“Aku hanya sedikit ragu, nak.”, jawab sang kesatria.

“Ragu akan apa, tuan?”

“Benih-benih pohon pelita yang kau sebar, aku yakin pasti akan tumbuh dengan indah. Daun-daun merah mudanya akan kembali menari seiring dengan suara kecapi Sang Angin. Rumput-rumput ketenangan yang tiap bilah daunnya yang berwarna-warni akan kembali menemani. Tapi aku ragu, akankah orang-orang yang aku cinta sudi untuk kembali. Aku juga ragu akankah bunga suci akan muncul ditanah ini?”
“Bukankah tuan bilang, tuan tak terlalu peduli apakah orang-orang yang tuan cinta sudi untuk kembali? Tuan juga bilang bahwa tuan juga tak terlalu peduli bahwa apakah akan ada bunga suci akan tumbuh ditanah ini?”

“Aku tahu, tapi…”

Anak kecil itu tersenyum melihat sang kesatria yang menundukkan kepalanya dalam perbincangan ini. Anak kecil itu berjalan mendekati sang kesatria itu, lalu ia raih tangan milik sesosok yang tinggi besar itu dengan lembut.

“Yang terpenting adalah pohon pelita kembali tumbuh indah, tuan. Yang terpenting adalah rumput-rumput ketenangan yang berwarna-warni tempat kupu-kupu padang Qolbu kembali mewarnai. Agar Sang Angin Hati yang selalu melantunkan bait-bait nasihat kembali bernyanyi. Agar tak ada lagi yang perlu kita takutkan ketika Sang Mentari mengutus Sang Bulan untuk menjemput kita, tuan.”
“Tapi, nak…”

Anak itu menarik tangan kesatria itu kebawah agar kesatria itu menundukkan badannya, agar kesatria itu duduk. Lalu setelah kesatria itu duduk, anak tersebut membuka telapak tangan kesatria yang ia genggam. Lalu ia menaruh tangan kesatria yang telapanya terbuka tersebut didada kesatria itu sendiri tersebut.

“Tak ada yang perlu tuan takutkan, aku yakin mereka pasti kembali. Jikapun tidak, mereka akan tetap ada disini… didada tuan ini. Dan Sang Mentari itu selalu mengasihi dan menyayangi, tuan. Selalu…”

Kesatria itu tersenyum setelah mendengar perkataan sang anak kecil. Mereka saling pandang dengan penuh kebahagiaan. Mereka menghabiskan waktu hari itu dengan menghitung awan dan daun-daun yang mulai tumbuh dipadang Qolbu itu.

“Nak, aku tetap masih merindukan bunga itu.”
“Nikmatilah rasa rindu itu dengan syukur, tuan.”

Hanya ada suara tawa api yang membakar setiap lembar daun dan pepohonan. Seakan tak ada lagi goresan tinta Sang Mentari di tanah ini, “Tanah Yang Patut Diperebutkan” ini. Kini musnah sudah indahnya warna merah jambu, warna wajah pohon-pohon belas kasih yang kini menjadi abu. Awan yang biasanya cerah kini berwarna kelabu, senyuman seakan tabu. Bahkan angin tak mau lagi bersenandung, ia memilih menutup kecapinya dengan kain beludru, seakan untuk selamanya. Semuanya hanya hitam, abu-abu, dan kegelapan… tak terkecuali. Satu-satunya sosok yang tersisa disana hanyalah sang Kesatria yang tetap dengan zirah dan pedang hitamnya.

Diatas tanah “Tanah Yang Patut Diperebutkan” itu awalnya berdiri rumah-rumah harapan dan tanah sawah perkebunan pelita milik orang-orang yang ia cinta. Ia sangat mencintai orang-orang yang tinggal ditanahnya, karena senyum-senyum mereka selalu membahagiakanya. Namun pada hari itu, semua orang yang ia cinta… ia usir dari tanahnya tanpa tahu menahu tentang sebenarnya apa yang ada. Bahkan pertanyaan dan tangisan yang mereka lontarkan pada Kesatria itupun tak ia jawab. Hingga akhirnya pertanyaan dan airmata orang-orang yang ia cinta itu berubah menjadi dengki dan cacian yang benar-benar menusuk hati. Bahkan Kesatria itu dengan sengaja melukai seorang sahabatnya, “Kepercayaan”, tanpa ada yang tahu apa penyebabnya kecuali agar semuanya pergi dari “Tanah Yang Patut Diperebutkan” ini. Tanah yang semua yang ada diatasnya ia bakar dengan api.

Dan kini… seperti yang telah ada. Hanya ada pemandangan dimana Sang Kesatria yang sedang duduk bersimpuh karena luka-lukanya. Ia yang lemas setelah ia cabut tiga anak panah yang menancap di punggung, paha, dan dada sebelah kanannya. Ia dengan luka menganga dikepalanya bekas pukulan senjata yang masih jelas terasa. Namun tak ada satupun dari luka-luka itu yang membuatnya kehilangan nyawa. Hanya ada dia dan kegelapan yang datang bersama panasnya api yang masih menyala. Sesekali ia lempar pandanganya ke setiap ujung horison senja. Sendiri, menangis lalu tertawa, lalu menangis lagi.

“Kenapa tuan ini?”, tanya seorang anak kecil yang tiba-tiba ada disampingnya.

“Siapa kau, bocah? Bagaimana bisa kau masih ada disini?”, Tanya Sang Kesatria itu yang terheran darimana dan siapa anak ini.

“Kenapa tuan tak mau bercerita kalau akan ada perang?”

“Aku sudah menceritakan, tapi tak ada yang percaya.”

“Kenapa tuan tak mencoba meyakinkan mereka?”

“Meyakinkah bahwa mereka terlena akan amannya tanah ini? Meyakinkan bahwa mereka salah dan bodoh? Meyakinkah bahwa mereka terlalu percaya diri? Meyakinkah bahwa mereka dikhianati?”

“Tapi mengapa tuan melukai sahabat dan orang-orang yang tuan cinta?”

Kesatria itu mencabut pedangnya dan mengacungkannya tepat dimuka anak kecil itu.

“Kau hanya anak kecil yang tak tahu tentang apa yang aku lakukan! Aku hanya ingin membuat mereka pergi karena mereka tak percaya akan apa yang akan terjadi! padahal ratusan ribu pasukan pembebasan yang dipimpin pengkhianat datang merapat! Aku hanya seorang kesatria, satu dari kumpulan bala tentara. Dan apa yang bisa dilakukan seorang tentara? Hanya bisa menggunakan kekuatannya untuk menunjukkan belas kasih dihatinya, walaupun kadang banyak yang salah mengartikannya. Apa yang kau tahu tentang diriku, bocah. Jangankan kau, mereka semua yang telah lama membersamaiku pun ternyata tak memahamiku. Mereka bilang aku mengusir mereka dan membakar semua yang berdiri diatas tanah ini demi menanam sebuah Bunga Biru. Padahal jika mereka benar-benar mencoba menyadarinya, karena semua ini semakin sulit bagiku untuk membuat Bunga Biru itu tumbuh ditanah ini, dipadang Qolbu ini. Tapi tak ada yang tahu… tak ada yang tahu. Karena tak ada yang mau mencoba mencari tahu! Mereka lebih percaya pada prasangka daripada bertanya langsung padaku!”

Anak itu menggenggam ujung pedang yang diarahkan kesatria itu padanya, darah menetes dari tanganya.

“Aku tahu, tuan. Aku tahu bahwa sebuah perang yang baru saja terjadi. Dua pertiga pasukan pembebasan yang dipimpin oleh pengkhianat itu telah kau musnahkan, sisanya kau pukul mundur. Aku melihatnya, melihatnya dengan mata kepalaku sendiri ketika tuan mengalahkanya seorang diri. Kemenangan itu tuan dapat dengan cara membakar “Tanah Yang Patut Diperebutkan” ini, tuan bakar padang Qolbu milik tuan ini ketika semua pasukan pembebasan berdiri diatasnya. Namun karena tuan tak mau melukai orang-orang yang tuan cinta, tuan mengusir mereka semua. Ini memang harga yang sangat mahal untuk sebuah kemenangan, tuan. Harga yang sangat mahal/

Kesatria itu melepaskan genggaman tangan anak kecil itu dari pedangnya. Lalu ia tancapkan pedangnya ketanah. Ia tundukkan tubuh tinggi besarnya, lalu ia peluk anak kecil itu dengan lembutnya. Air mata mengalir dipipinya

“Hanya ini yang aku tahu… hanya ini cara yang aku tahu. Maafkan aku, nak. Maafkan aku karena telah membakar padang Qolbu ini. Walaupun ini milikku, tapi tak seharusnya aku mengusir kalian yang aku cintai dan membakar semua yang ada disini. Maafkan aku…”

“Ini bukan sepenuhnya salah tuan. Ini juga salahku karena tak menemani tuan selalu. Andaikata aku selalu menemani tuan. Tuan tak akan melakukan semua itu, tuan tak akan menjadi setan perang seperti sekarang ini. Ketika ini semua terjadi, aku malah lari karena takut akan tuan lukai seperti sahabat tuan, “Kepercayaan”, padahal pada waktu itu tuan benar-benar membutuhkanku.”

“Apa maksutmu, anak kecil?”

Kesatria itu menatap mata anak kecil itu. Dan anak kecil itu mulai menangis.

“Namaku adalah “Ikhlas”, tuan. Aku adalah cahaya putih titipan Sang Mentari yang seharusnya selalu menemani tuan agar hati tuan tetap tenang, agar setan perang tak muncul dan menguasai diri tuan. Andaikata saat perang terjadi aku disamping tuan, jikapun tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain membakar “Tanah Yang Patut Diperebutkan” ini, paling tidak aku bisa mencegah tuan agar tidak melukai orang-orang yang tuan cintai. Aku bisa mencegah tuan melukai “Kepercayaan”. Aku juga bisa membantu tuan membujuk mereka untuk percaya. Maafkan aku tuan”

“Tak perlu menangis, nak. Yang terpenting mereka semua telah aman, mereka yang kita cinta telah aman. Aku tak terlalu peduli apakah orang-orang yang aku cinta sudi untuk kembali mengisi padang Qolbuku ini. Sudi untuk berbagi senyum dan bahagia denganku lagi. Aku juga tak terlalu peduli apakah sang Bunga Biru akan muncul ditanah ini. Kita telah melakukan apa yang kita bisa pada saat itu. Kau yang berlari, dan aku yang menjadi seperti ini.

Nak, maukah kau menemaniku disini, seorang tentara yang sendiri ini, untuk mengembalikan “Tanah Yang Patut Diperebutkan” ini menjadi indah lagi?”

“Aku akan menemani, tuan. Aku akan membantu, tuan.”

“Apakah nanti tak ada yang mencarimu?”

“Mereka pasti mengerti, tuan.”

Mereka saling pandang dan tersenyum satu sama lain.

Kesatria dan anak kecil itu mulai membersihkan segala sesuatu yang porak poranda dengan tangan mereka. Mereka tetap menjalaninya dengan segala keterbatasan yang ada. Mereka ingin membuat padang Qolbu ini indah kembali, berharap orang-orang yang mereka cintai sudi untuk kembali.

‎”Anak kecil, tahukah kau.

Lucu sekali…

Aku mulai bisa menikmati semua ini. Padahal hatiku kini pati rasa.”

“Bertahanlah sejenak, tuan. Tetaplah ingat semua ini untuk apa.”

LUKA

Posted: June 4, 2011 in My Literary Works

Pedang hitamnya yang bermandikan darah, ia tancapkan tanah bak akar pohon jati merah. Menahan berat tubuhnya yang sedang duduk bersimpuh agar Ia tak tumbang seperti Vanstenburg yang roboh. Kakinya gemetar, genggaman tanganya mulai lemas. Dua anak panah menancap dipunggung dan pundak kirinya. Kabut-kabut perang menutupi mayat-mayat yang bergelimpangan dikiri-kanannya. Bangkai lawan-lawanya yang Ia robek jantungnya, dan bangkai saudara seperjuangannya. Siluet cahaya neraka.

Ia mulai menangis, airmata mulai selimuti wajahnya yang berdebu. Ia menangis bukan karena Ia takut akan kemungkinan datangnya akhirnya. Tapi Ia menangis karena Ia lupa untuk apa sebenarnya Ia turun lagi kelembah neraka jiwa ini. Padahal sebenarnya, Ia yang lelah akan pertarungan-pertarungan sebelumnya telah diterima oleh para pendeta untuk menjadi pelayan di Kuil Matahari, tempat dimana seorang insan mendapatkan ketenangan saat menghadap Sang Surya.Matanya jauh menerawang angkasa, sementara sabetan pedang-pedang yang terbuat dari adamanite dan logam titan masih terus menumpahkan darah-darah para pejuang yang entah bertarung demi sebuah kebenaran atau hanya untuk sekedar kehormatan hatinya yang tak mengakui kesalahan. Matanya yang deras airmata masih tetap terus memandang langit yang bertabur bintang ditengah perang. Ia bertanya “Sebenarnya ini semua untuk apa?”.Walau malam, ternyata Sang Surya tak pernah tidur. Bak hujan, bintang-bintang malam itupun berjatuhan. Melesatkan bayang-bayang kenyataan. Pemandangan teduh akan kampung halaman yang ditinggal perang tiba-tiba tertangkap mata. Ladang gandum yang menggoda disepanjang kiri kanan jalan utama ujung desa. Ternak-ternak gemuk yang ia gembalakan. Tanah yang beraroma plum disiang hari, dan wangi mawar dimalam hari. Hangatnya lantai Kuil Matahari tempatnya mengabdipun juga terasa. Serta wajah dan senyum hangat orang-orang yang Ia cinta. Sederhana namun lebih berharga dar batui rubi Caribia.

Ia sadar, semua inilah yang Ia tinggalkan untuk jalani semua keganasan perang ini. Semua mimpi inilah yang Ia taruh dalam kotak dan Ia pertaruhkan. Hal-hal sederhana yang ingin Ia lindungi dari bala tentara Pembebasan tempat dia dulu sempat mengabdi yang sekarang malah harus Ia hadapi yang sebenarnya tak akan pernah membebaskan apapun,hanya menghancurkan apa yang mereka lalui.

Bayang-bayang yang datang bersama bintang itu ternyata membawa keajaiban. Kakinya yang berat seakan ringan. Pedangnya tak lagi berat ditangan. Luka-luka serasa bahan tertawaan. dan tangisan perang bak nyanyian merdu para duyung ditengah lautan.Sang Kesatria Hitam kembali bangkit dan menari-nari diatas pertempuran. Pedang baja hitamnya menyambut leher-leher musuh dengan lembutnya. Teriakan lantangnya  Ia lemparkan pada musuh-musuh yang ada dihadapannya, “Matikanlah aku jika kalian ingin terus maju! Atau enyahlah dari Tanahku, maka lehermu akan tetap jadi milikmu! Ia nikmati darah dan pertempuran neraka ini. Seakan opium yang penuh kenikmatan Ia nikmati darah para tentara Pembebasan yang kian waktu mulai bergetar hatinya. Ia terus bertarung demi hal-hal sederhana yang baginya amat sangat berharga. Walau wajah dan hatinyamasih tetap beku dan kelam, entah sampai kapan.
-Adiwena Yusuf Nugraha

Bukan Kalinga

Posted: May 28, 2011 in Heart-Shaped Box

Ashoka, aku iri padamu.

Aku iri padamu bukan karena kau berhasil menaklukkan Burma dan Bangladesh hingga daerah-daerah di Pamir Knots hingga Andhra Pradesh.

Aku iri padamu karena kau telah menemukan kedamaian, sebagaimana kau yang kini telah membuang pedangmu ke sungai Gangga dan melakukan perjalanan jauh ke Himalaya.

Dan mungkin kini kau telah mencapai kesempurnaan.

Tapi Ashoka, aku tak ingin menjadi dirimu.

Aku tak ingin menjadi dirimu bukan karena kau dengan kejinya membakar 500 menterimu, puluhan saudara dan permasurimu yang mencoba mengkhianatimu.

Aku tak ingin menjadi dirimu karena kau baru melakukan perjalanan jauh keHimalaya setelah pertumpahan darah di Kalinga.

Dimana janda dan yatim menjadi tidur tak beratap dan tangisanmu untuk itu telah terlambat.

Tahukah kau, Ashoka

Sebenarnya pedangku telah ku buang ke sungai Gangga, dan sudah ku mulai perjalananku ke Himalaya.

Tapi apa daya, ada sebuah pertempuran terakhir yang mana harus aku arungi dan membuatku kembali ke kerajaan ini.

Tapi ini bukan Kalinga, dimana kau salah melepaskan jiwa dari ribuan raga.

Ini sesuatu yang amat sangat jauh berbeda.

Saat Ini

Posted: February 20, 2011 in My Literary Works

Kau tahu… Si miskin selalu meminta.
Kau risih?
Itu bukan salah mereka… Itu naluri.

Kau tahu… Si kaya selalu bermahkota.
Kau tergoda?
Itu bukan salah mereka… Itu naluri.

Kau tahu… Anak kurus itu tuna aksara.
Dadamu sesak?
Itu bukan salah siapa-siapa… itu wajar.

Kau tahu… Anak gendut selalu pintar.
Hatimu luka?
Itu bukan salah siapa-siapa… itu wajar.

Kau tahu… Kapan sajakah aku berbohong?
Salah satunya…
“Saat ini”

ADIWENA YUSUF NUGRAHA

15 Mei 2010